IMG_7263

UPBringing: Decommisioning of Offshore Platform in South East Asia

JAKARTA — Kegiatan eksplorasi minyak bumi lepas pantai (offshore) di Indonesia sudah ada sejak tahun 1970 dan tidak sedikit anjungan lepas pantai yang sudah tua (ageing) bahkan akan berhenti beroperasi. Demi keamanan dan keselamatan, anjungan lepas pantai yang sudah tidak digunakan sebaiknya dilakukan pembongkaran (decommissioning). Namun hal tersebut tidak mudah dilakukan di offshore mengingat tingkat kesulitan pembongkaran yang tidak mudah, biaya yang mahal, dan juga diperlukan pengawasan yang ketat terhadap dampak yang akan ditimbulkan apabila terjadi kesalahan pembongkaran. Di Indonesia, terdapat ratusan anjungan lepas pantai yang tersebar diseluruh perairan Indonesia, sedangkan Malaysia sebagian besar produksi minyaknya belokasi di lepas pantai.

Dalam rangka memberikan pemahaman terhadap mekanisme, tantangan dan solusi terkait topik tersebut bagi mahasiswa yang berorientasi pada industri perminyakan, Universitas Pertamina kembali melaksanakan kegiatan UPBRINGING dengan tema “Decommisioning of Offshore Platform in South East Asia,” pada tanggal 25 April 2017 yang bertempat di gedung Griya Legita 2803-2804 Universitas Pertmina. Tema ini menjadi penting untuk diangkat mengingat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan eksplorasi minyak bumi di Indonesia terutama yang berlokasi di lepas pantai.

Kegiatan ini berlangsung dari pukul 13.00 dan berakhir pada pukul 15.00 WIB dan dimoderatori oleh Dr. Arianta, S.T., M.T. (Kaprodi Program Teknik Sipil, Universitas Pertamina). Adapun pembicara dalam kegiatan ini diantaranya, Prof. Dr. Mohd. Shahir Liew (Dean of Daculty of Geocience and Petroleum Engineering) dan Dr. Noor Amila (Head of Civil and Environmental Engineering Departement) yang berasal dari Universiti Teknologi Petronas memaparkan materi melalui perspektif Asia Tenggara pada umumnya dan Malaysia pada khususnya. Sedangkan, Sophia Kangan (Structural & Project Engineering Lead) dari Pertamina Upstream Teknologi Center dan I Made Sukrajaya (VP Engineering & Integrity) yang berasal dari PHE ONJW memaparkan materi mereka berdasarkan perpsektif dari Indonesia. Kedua negara ini memiliki permasalahan yang sama dalam persoalan restorasi lokasi yang menjadi tempat pemasangan anjungan lepas pantai (platform of offshore). Di satu sisi, proses decommissioning ini membutuhkan biaya yang cukup besar, tetapi di sisi lain jika proses decommissiong ini tidak dilakukan maka akan berpotensi merugikan bagi ekosistem sekitar dan juga bagi kapal yang berlayar melalui daerah tersebut.

Antusiasme mahasiswa selama diksusi terkait topik tersebut menjadikan kegiatan ini menjadi sangat menarik. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari penandatangan MOU yang telah dilaksanakan oleh Universitas Pertamina dan Universiti Teknologi Petronas beberapa waktu lalu. Hal terpenting yang dapat disimpulkan melalui diskusi ini adalah perlunya regulasi yang aplikatif oleh pemerintah, dan perlunya perumusan langkah-langkah yang strategis untuk mengurangi biaya yang harus dikeluarkan terhadap proses decommissioning tersebut. Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa calon lulusan Universitas Pertamina dapat mempersipakan diri dalam mengadapi berbagai tantangan dunia kerja terutama di bidang industri energi di masa yang akan datang. (Ilham/Ita).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *