_MG_4779

UPBringing: Authentic Leadership, Kepemimpinan Bukan Hanya Berbicara Posisi tetapi Proses

JAKARTA – Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan seringkali dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya adalah sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi dan kredibiltas. Dikatakan berkompetensi jika SDM tersebut memiliki sifat kepempinan mulai dari memengaruhi orang lain, membangun kerjasama tim yang baik, memahami dan mencari solusi dari permasalahan yang ada, memahami perbedaan, dan cara terbaik untuk meningkatkan kualitas diri. Sejalan dengan hal tersebut, setiap pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan dibentuk dari suatu proses bukan karbitan. Hal ini tentunya berdasarkan pada konsepsi bahwa kepemimpinan merupakan proses bukan posisi.

 

   Sebagai kelompok yang memiliki tanggungjawab untuk menjadi penerus pembangunan bangsa, mahasiswa dituntut untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuan mereka untuk menunjang keilmuan yang akan diterapkan di masyarakat. Mengetahui pentingnya kepemimpinan untuk kemajuan bangsa, Universitas Pertamina mengadakan UPBringing dengan tema “Authentic Leadership” di ruang 2803-4 Gedung Griya Legita Universitas Pertamina pada 15 Maret 2017. Pada kesempatan ini, Prof. Claudia C. Cogliser, P.hD (Associate Professor and Associate Dean Graduate School Rawls College of Business, Texas Tech University) menjadi pembicara di acara UPBringing dan Budi W. Soetjipto, PhD (Vice Rector for Research, Development, and Partnership, University of Pertamina) sebagai moderator.

         Menurut Prof. Claudia setidaknya terdapat empat elemen yang harus diperhatikan dalam membentuk jiwa kepemimpinan. Pertama adalah mampu mengidentifikasi kemampuan diri, kedua, menyadari pentingnya moral dan etika, elemen ketiga yaitu mengambil keputusan secara objektif dan tidak sepihak, dan yang terakhir adalah memegang teguh integritas dan transparansi.

     Pada elemen pertama, proses kemampuan untuk mengenali diri dimulai dari mengidentifikasi kemampuan diri, sifat baik yang harus dikembangkan, berbagai kesempatan yang dapat diikuti untuk mengembangkan diri, hingga kemampuan diri untuk berkomunikasi, mengatur diri dalam mengelola waktu, dan juga emosi.  Dengan harapan jika seseorang mampu mengetahui kemampuan diri, mereka dapat dengan mudah berempati dengan teman disekitarnya, dapat mengetahui alasan dibalik setiap tindakan mereka, dan mengetahui hal-hal yang dapat memengaruhi hidup mereka, sehingga pada akhirnya seseorang dapat menjadi pemimpin yang adil dan memiliki jiwa kepemimpinan.

     Seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan juga harus menyadari pentingnya moral dan etika. Tidak hanya nilai-nilai yang sudah ditanamkan ke kehidupan sehari-hari, nilai tersebut juga merupakan konsekuensi dari setiap interaksi yang dilakukan oleh seseorang dengan lingkungannya seperti menegur kolega jika ada hal yang tidak sesuai dengan prosedur dan bersikap profesional manakala terlibat perseteruan dengan rekan organisasi. Seorang pemimpin yang baik dapat memahami konsekuensi-konsekuensi ini sebelum mereka mengambil tindakan, sehingga dapat menghindari resiko yang nantinya akan merusak kinerja kelompok di masa yang akan datang. Jika suatu rekan atau kolega bertindak di luar dari aturan dan ingin menegur yang bersangkutan, pastikan untuk melakukan secara personal, tidak dilakukan di ruang publik, dan menggunakan gaya bahasa yang baik.

     Lebih lanjut Prof. Claudia menyampaikan bahwa seorang pemimpin harus mengelola informasi secara bijak. Seringkali kita dihadapkan pada banyaknya informasi yang belum terbukti kebenarannya. Pada masa ini, pantang bagi seseorang khususnya pemimpin untuk langsung menyerap informasi tanpa mendengar dan mencaritahu lebih lanjut. Padahal jiwa kepemimpinan lahir ketika kita mengetahui secara jelas permasalahan tanpa melibatkan emosi dan prasangka subjektif. Untuk menjadi objektif, pemimpin harus mencari sumber informasi dan menyikapi informasi yang diterima dengan berpikir sesuai dengan kondisi objektif berdasarkan acuan-acuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Keuntungan dari memproses informasi dari berbagai sumber adalah seorang pemimpin dapat menghindari kesalahpahaman dengan rekan kerja atau bawahan karena telah memandang suatu kejadian dari perspektif mereka yang berujung fitnah hingga rusaknya hubungan kerja. Dengan mencari sumber informasi yang berbeda, seorang pemimpin tidak hanya menjadi pemimpin yang adil namun juga akan memahami keadaan lebih baik.

     Elemen terakhir adalah transparansi dalam berhubungan dengan kolega. Pemimpin yang baik harus bertanggungjawab terhadap posisinya, namun tetap berbaur dengan membangun interaksi sosial. Menjadi pemimpin transparan selalu berpikir mengenai integritas yaitu bersih dan diawali dari diri sendiri. Seorang pemimpin yang baik tidak harus memaksakan dirinya untuk disukai oleh rekan-rekan kerjanya, yang lebih penting adalah menjaga profesionalisme dengan senantiasa mengevaluasi diri dan organisasi yang dikelola. Di akhir pemaparan, Prof. Claudia menegaskan kembali mengenai konsepsi bahwa kepemimpinan merupakan proses bukan posisi. Seorang pemimpin harus bisa menempatkan diri dengan baik, mengetahui segala kewajiban dan hak-nya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *