Sambutan Rektor Universitas Pertamina untuk Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina 2016/2017

SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS PERTAMINA

pada

PENERIMAAN MAHASISWA BARU UNIVERSITAS PERTAMINA

TAHUN AKADEMIK 2016/2017

 

Yang kami hormati,

Ibu Menteri BUMN Republik Indonesia, Ibu Rini Soemarno.

Bapak Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Bapak Dwi Soetjipto, beserta para Direksi.

Rektor beserta jajaran pimpinan Universitas Indonesia.

Rektor beserta jajaran pimpinan Institut Teknologi Bandung.

Pimpinan dan anggota Dewan Penasehat Universitas Pertamina.

Para Pengelola Universitas Pertamina.

Rekan-rekan dosen dan tenaga kependidikan.

Para mahasiswa baru Universitas Pertamina yang saya banggakan.

Para undangan dan hadirin sekalian yang saya muliakan.

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat Pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan ridha-Nya sehingga pada pagi hari yang sangat berbahagia ini kita semua bisa hadir di Gedung Pertamina Pusat untuk melaksanakan salah satu agenda utama Universitas Pertamina di tahun 2016, yaitu penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2016/2017. Tahun ini adalah tahun pertama berdirinya Universitas Pertamina. Pada saat ini Universitas Pertamina menerima sejumlah 1.457 mahasiswa. Mereka semua berasal dari berbagai penjuru tanah air.

Sebagai Rektor Universitas Pertamina, perkenankan saya mengucapkan selamat atas keberhasilan Adik-Adik, segenap mahasiswa baru Universitas Pertamina atas kerja keras mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa, sehingga saat ini Adik-Adik dapat bergabung dalam komunitas kampus yang membanggakan kita semua ini. Saya yakin bahwa Adik-Adik adalah putra-putri terbaik bangsa Indonesia, dan saya bangga menerima kedatangan Adik-Adik sebagai peserta didik di kampus Universitas Pertamina.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai.

Pada kesempatan ini saya sebagai Rektor Universitas Pertamina ingin mengajak Adik-Adik untuk melihat kondisi SDM Indonesia dalam konteks regional dan global. Kita sudah tahu, baik dari media cetak, online, ataupun dari berbagai publikasi ilmiah bahwa saat ini situasi ekonomi dunia sedang tertekan. Satu atau dua dekade terakhir ini pertumbuhan perekonomian global bergeser dari poros barat yang diwakili oleh Amerika dan Eropa menuju poros timur yaitu Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan. Kalau kita bicara mengenai Asia Tenggara atau kita biasa menamakan dengan ASEAN, maka +50% kita bicara mengenai Indonesia. Luas Indonesia mungkin lebih dari 50% luas ASEAN. Penduduk Indonesia hampir separuh dari penduduk ASEAN, jadi kalau kita mengamati pertumbuhan ASEAN maka kita tidak bisa terlepas dari perkembangan Indonesia, yang memang dominan dalam segala hal di ASEAN.

Kalau kita lihat Indonesia, walaupun GDP per kapita Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand, tetapi GDP total Indonesia paling tinggi di ASEAN. Indonesia telah masuk dalam negara-negara G-20. Pada tahun 2014 urutan GDP Indonesia berkisar pada urutan ke 16-17 dunia. Banyak lembaga-lembaga kajian internasional seperti McKinsey, IMF, World Bank, dan yang lainnya memperkirakan Indonesia akan masuk dalam urutan 5-7 ekonomi terbesar dunia pada tahun 2045, saat usia Indonesia 100 tahun merdeka.

Mengapa lembaga-lembaga Internasional tersebut memprediksi seperti itu?. Ada tiga faktor mengapa saat ini Indonesia dimasukkan dalam “new emerging country.” Pertama, Indonesia memiliki kekayaan alam yang meruah (potensi panas bumi no 1 dunia, batubara no 2, timah no 2, sawit no 1, karet no 2, kakao no 2). Yang kedua adalah pengalaman Indonesia dalam menurunkan angka kemiskinan (dari 11,13% pada tahun 2015 menjadi 10,86% atau 28,01 juta orang pada Maret 2016) dan pengangguran (dari 6,18% pada tahun 2015 menjadi 5,5% atau 7,02 juta orang pada Februari 2016) serta meningkatnya pendapatan perkapita (1.900 USD 2007 – 3.000 USD 2010 – 3.412 USD 2015). Ketiga, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang termasuk dalam growth society. Struktur masyarakat Indonesia dengan usia 0-30 tahun presentasenya sekitar 70%, hal ini menunjukan adanya penduduk usia produktif yang tinggi dan masih tetap tinggi sampai 30 tahun yang akan datang. Hal ini terbalik dengan negara-negara yang mengalami aging society seperti Jepang dan yang lainnya. Di negara-negara seperti ini penduduk dengan usia produktif persentasenya lebih kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk usia lanjut. Hal ini mengakibatkan penduduk usia produktif (yang jumlahnya sedikit) harus menanggung beban penduduk dengan usia lanjut yang justru jumlahnya lebih besar. Sebagai akibatnya, pajak di negara-negara seperti itu biasanya relatif lebih tinggi.

Para mahasiswa baru serta hadirin yang kami hormati

Persentase yang tinggi dari penduduk usia produktif seperti yang ada di Indonesia dapat kita jadikan sebagai bonus demografi. Dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa, bonus demografi hanya terjadi satu kali untuk suatu bangsa. Bila Indonesia tidak dapat memanfaatkan bonus demografi ini maka akan hilang kesempatan tersebut dalam sejarah Indonesia. Bonus demografi hanya akan didapatkan bila tenaga kerja Indonesia mempunyai keterampilan yang baik dan kompetitif, sebaliknya bonus demografi akan menjadi demographic disaster bila tenaga kerja kita tidak mempunyai keterampilan yang memadai.

Kunci keberhasilan Indonesia untuk mendapatkan bonus demografi adalah bagaimana keberhasilan pengembangan pendidikan yang baik. Sekarang marilah kita lihat profil anak-anak Indonesia, rata-rata lama pendidikan masyarakat adalah 7-8 tahun, artinya rata-rata masyarakat Indonesia belum lulus SMP. Bila kita lihat pendidikan SDM Indonesia tahun 2010, hanya 7,2% yang mengenyam pendidikan tinggi, 22,4% berpendidikan menengah, dan sisanya 70,4% masih berpendidikan dasar. Bila dibandingkan dengan negara tetangga kita pada tahun yang sama SDM Malaysia (20,3% PT, 56,3% berpendidikan menengah, dan 24,3% pendidikan dasar). Suatu negara dinyatakan sebagai negara maju oleh OECD bila tingkat SDM-nya 40,3% pendidikan tinggi, 39,3% berpendidikan menengah, dan 20,4% berpendidikan dasar. Dari data-data di atas terlihat bahwa kita masih punya pekerjaan rumah yang besar untuk dapat memanfaatkan bonus demografi dan menjadi negara maju. Bila sistem pendidikan Indonesia berhasil, Indonesia akan mampu meningkatkan produktifitas, ekonomi, budaya, dan peradaban Indonesia. Bila sistem pendidikan Indonesia baik, maka kita optimis bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara termaju di kawasan ASIA, bukan hanya di ASEAN semata. Sebaliknya jika sistem pendidikan kita tidak berhasil maka angkatan tenaga kerja kita yang banyak akan menjadi tenaga kerja yang tidak kompetitif dan pada akhirnya akan membebani masyarakat dan selanjutnya akan mengalami demographic disaster, bencana demografi.

Untuk menciptakan sistem pendidikan yang baik, apa yang harus kita lakukan?. Tentu negara harus mempersiapkan sarana pendidikan yang cukup dengan kualitas yang baik. Untuk membuat sarana pendidikan yang cukup dan berkualitas tentu bukan hanya tugas pemerintah saja tetapi tugas kita semua sebagai warga negara. Dalam berbagai tulisan dan kuliah-kuliah saya, saya sering menyampaikan bahwa perlu reorientasi sistem pendidikan. Untuk sektor pendidikan tinggi, pemerintah perlu melakukan reposisi KemenristekDikti dengan lembaga-lembaga riset nasional. Untuk pengembangan riset dan inovasi Indonesia perlu mengembangkan wahana interaksi antara pelaku industri, peneliti, akademisi, dan pemerintah. Di samping itu Indonesia perlu melakukan penataan perundangan guna menciptakan keberpihakan pada riset dan inovasi.

Para hadirin dan segenap mahasiswa baru yang saya banggakan

Universitas Pertamina hadir untuk bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya membangun dan mengembangkan sektor pendidikan tinggi. Universitas ini hadir tidak hanya untuk membangun dan mengembangkan sumber daya manusia serta ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana yang menjembatani antara kebutuhan-kebutuhan industri yang ada di masyarakat dengan pengembangan-pengembangan inovasi yang ada di perguruan tinggi.

Bagi segenap mahasiswa, Adik-Adik harus belajar sungguh-sungguh sehingga akan menjadi bagian dari SDM Indonesia yang tangguh. Dengan IPTEK yang Adik-Adik pelajari dan kembangkan selama mengikuti pendidikan di Universitas Pertamina, saya percaya kita mampu membangun Indonesia yang lebih sejahtera dan beradab. Dengan segala potensi yang ada, Adik-Adik berpotensi mejadi pemimpin global (global leader) bila disertai dengan semangat, wawasan yang luas, sanggup menembus pluralitas pemikiran, sanggup memahami permasalahan dalam pluralitas perspektif, memahami dengan pemikiran yang kritis dan berpijak pada prinsip yang kokoh, serta memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran mapun tindakan atas dasar prinsip kesetaraan, dan berpegang pada nilai-nilai universal.

Adik-Adik adalah putra putri bangsa terbaik karena telah sanggup meraih kesempatan yang tidak bisa didapatkan oleh putra putri bangsa yang lainnya. Akan tetapi, menjadi putra putri bangsa terbaik juga membawa konsekwensi. Di pundak Adik-Adik juga terdapat tanggung jawab untuk turut menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia. Kemajuan bangsa Indonesia bergantung pada kontribusi Adik-Adik kelak ketika Adik-Adik telah menyelesaikan studi dan berkiprah di berbagai arena kehidupan di masyarakat. Masyarakat dan angsa Indonesia membutuhkan kontribusi terbaik Adik-Adik untuk menghela dan memimpin perubahan-perubahan bangsa ke arah yang lebih sejahtera dan lebih tercerahkan. Adalah wajar dan adil bila tanggung jawab yang lebih besar diemban oleh mereka yang mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan memiliki kemampuan yang lebih.

Untuk menyongsong amanah sosial yang mulia tersebut nantinya, Adik-Adik harus memanfaatkan waktu adik-adik sebaik mungkin selama menempuh studi di Kampus Universitas Pertamina. Implementasikan selalu prinsip Kerja 5As (kerja keras, kerja cerdas, kerja mawas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas) dalam proses belajar dan aktivitas Adik-Adik. Disamping itu jangan lupa untuk selalu mengedepankan karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik.

Pada mahasiswa baru serta hadirin yang kami hormati,

Pada hari yang berbahagian ini, sesuai dengan tradisi dalam acara penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus, akan ada ada pidato ilmiah atau kuliah umum. Pada kesempatan kali ini kuliah umum akan diberikan oleh dua narasumber yang sangat mumpuni di bidangnya. Yang pertama akan disampaikan oleh Direktur Utama PT.Pertamina (Persero) dengan tema “Menjadi Universitas yang Mempelopori Riset Energi Baru dan Terbarukan” dan yang kedua akan disampaikan oleh yang terhormat Ibu Menteri BUMN Republik Indonesia dengan tema “Peran BUMN untuk Meningkatkan Kualitas Perguruan Tinggi.” Kami mengucapkan terima kasih atas pencurahan waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikan untuk menyiapkan kuliah umum ini. Kami berharap kuliah umum ini akan memberikan gambaran tentang prospek bisnis energi di tanah air dan seluruh hadirin dapat menyimak dengan baik dan dapat memetik manfaat dari pemaparan yang disampaikan.

Semoga Allah melimpahkan kepada kita semua rasa kepedulian dan kebersamaan yang tinggi serta kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan kegiatan dan tugas kita bersama di Kampus Universitas Pertamina yang kita banggakan ini. Selamat belajar dan berkarya.

 

Wabillahi taufiq wal hidayah

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Prof. Akhmaloka, PhD

Rektor Universitas Pertamina

1 reply
  1. Fahmi
    Fahmi says:

    Sambutan yang luar biasa. Mengangkat potensi yang di miliki indonesia. Universitas pertamina ingin memberi kontribusi terhadap bangsa dan negara melalui pendidikan. Semoga terwujud. Aamiin

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *