TANTANGAN PERGURUAN TINGGI MENGHADAPI ERA EMAS (GOLDEN AGE) INDONESIA TAHUN 2045 SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS PERTAMINA pada DIES NATALIS UNIVERSITAS PERTAMINA TAHUN 2018

Yang kami hormati,

Bapak Wakil Menteri ESDM Republik Indonesia, Bapak Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D.

Bapak Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Bapak Elia Massa Manik beserta para Direksi PT Pertamina (Persero).

Pimpinan dan anggota Dewan Penasehat Universitas Pertamina.

Bapak/Ibu Para Rektor mitra Universitas Pertamina atau yang mewakili

Pimpinan Pertamina Foundation.

Para Wartawan dari berbagai media masa.

Para Pengelola Universitas Pertamina.

Rekan-rekan dosen dan tenaga kependidikan.

Para mahasiswa Universitas Pertamina yang saya banggakan.

Para undangan yang saat ini hadir:

Dan Hadirin sekalian yang saya muliakan

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat Pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan ridha-Nya sehingga pada pagi hari yang sangat berbahagia ini, kita semua bisa hadir dalam rangka melaksanakan salah satu agenda utama Universitas Pertamina, yaitu Sidang Terbuka Dies Natalis Universitas Pertamina yang kedua.

Tepat pada hari ini, Kamis, 1 Februari 2018, Universitas Pertamina genap berusia dua tahun. Bagi sebuah universitas, usia dua tahun masih tergolong sangat muda. Begitu banyak institusi perguruan tinggi lain yang jauh lebih senior dari sisi usia. Tapi, usia yang masih muda tidak mengendorkan semangat kami untuk terus berkontribusi ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentunya, kontribusi tersebut dilandasi dengan semangat yang masih tetap sama dengan semangat pada saat Universitas ini diresmikan, yaitu semangat dalam membangun ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki dampak besar bagi kemajuan bangsa, khususnya dalam menghadapi persaingan di kawasan ASEAN dan global.

 

 

Para undangan dan hadirin yang saya hormati,

Pada kesempatan ini, perkenankan kami mengetengahkan suatu hal yang menurut hemat kami perlu kita cermati bersama yaitu tentang tantangan perguruan tinggi menghadapi era emas (golden age) Indonesia tahun 2045. Indonesia diprediksi akan menjadi negara maju pada tahun 2045. Dalam periode 2018-2045, ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 6,4% per tahun. Price Waterhouse Coopers memprediksi, ranking produk domestik bruto (PDB atau GDP) Indonesia akan melesat keurutan ke-4 pada tahun 2050. Bahkan, Bappenas memperkirakan ranking itu dicapai pada tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun usia kemerdekaan Republik Indonesia.

Tentunya, visi tersebut tidak akan mungkin bisa tercapai tanpa adanya usaha yang sinergis dari segenap elemen bangsa. Banyak tantangan yang akan dihadapi menuju era emas Indonesia tahun 2045. Untuk itu, pemerintah telah merumuskan bahwa visi Indonesia 2045 bisa dicapai dengan dukungan 4 pilar: pembangunan SDM dan penguasaan IPTEK, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta ketahanan nasional dan tata kelola pemerintah.

Lalu, bagaimana peran dan tantangan universitas menyongsong era emas Indonesia tahun 2045 terutama untuk pembangunan SDM dan penguasaan IPTEK. Apa yang harus universitas lakukan untuk mencapai visi tersebut?

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Saat ini kita menghadapi tantangan besar yang bukan hanya bersifat lokal, namun global. Tantangan dari tren global atau yang biasa disebut megatren dunia sedang dan akan terus kita hadapi. Kita menghadapi demografi global, urbanisasi dunia, perdagangan internasional, keuangan internasional, persaingan sumber daya alam, perubahan iklim, kelas pendapatan menengah, perkembangan teknologi, perubahan geopolitik, dan peranan emerging economic. Tantangan kita ke depan bukan lagi tantangan yang bersifat lokal. Kita menghadapi tantangan dari berbagai aspek yang sifatnya global, internasional.

Tahun 2045, jumlah penduduk dunia diprediksi mencapai 9,54 milyar. Sebagai ilustrasi, jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 berjumlah 238,5 juta dan pada tahun 2045 diperkirakan akan melonjak menjadi 318,7 juta jiwa.

Jumlah penduduk yang semakin besar adalah tren global yang terus terjadi. Di satu sisi, hal tersebut merupakan tantangan, namun di sisi lain, itu adalah peluang bagi kita, bangsa Indonesia. Indonesia diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi sampai dengan tahun 2045. Proporsi penduduk usia produktif diperkirakan mencapai 50,1% dari total penduduk Indonesia. Proporsi dan jumlah tersebut merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.

Satu hal yang perlu kita perhatikan dan kita antisipasi, bonus demografi bukan hanya diukur dari kuantitas orang-orang di rentang usia produktif, namun bonus demografi dilihat dari kualitas orang-orang atau kualitas sumber daya manusia yang berusia produktif. Bonus demografi hanya akan didapatkan bila tenaga kerja Indonesia mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang baik dan kompetitif. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan kuantitas penduduk usia produktif, namun tanpa dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, maka justru bonus kuantitas demografi tersebut hanya akan menjadi demographic disaster.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Ketika kita berbicara mengenai sumber daya manusia (SDM), maka pada aspek inilah kita berbicara tentang peran universitas. Pendidikan adalah tolok ukur kemajuan bangsa. Pendidikan adalah pilar pertama dari empat pilar penyokong visi Indonesia tahun 2045. Bila sistem pendidikan Indonesia berhasil, Indonesia akan mampu meningkatkan produktifitas, ekonomi, budaya, dan peradaban. Bila sistem pendidikan Indonesia baik, maka kita optimis, Indonesia akan menjadi salah satu negara termaju di kawasan ASIA, bukan hanya di ASEAN semata. Sebaliknya, jika sistem pendidikan kita tidak berhasil maka angkatan tenaga kerja kita yang banyak akan menjadi tenaga kerja yang tidak kompetitif dan pada akhirnya akan membebani masyarakat dan selanjutnya terjadilah demographic disaster, bencana demografi.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Universitas, sebagai institusi pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam pembangunan SDM dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Universitas berperan dalam mendidik SDM yang siap beradaptasi dengan tantangan di masa depan. Pendidikan adalah instrumen rekayasa sosial untuk mempersiapkan manusia yang siap menghadapi masa depan.

Salah satu tuntutan sumber daya manusia di masa depan, bahkan saat ini tantangannya sudah dihadapi, adalah SDM dituntut fleksibel dengan teknologi digital. Di era digital, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat cepat berkembangan. Perkembangannya tidak diukur dalam hitungan tahun, bulan, atau hari, namun perkembangannya terjadi dalam hitungan jam, menit, bahkan detik. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh bidang studi yang berkaitan langsung dengan teknologi seperti enginering dan natural sciences. Bidang social sciences pun dituntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat.

Bidang studi ekonomi contohnya, dituntut harus bisa beraptasi dengan financial technology yang dikenal dengan istilah Fintech. Financial Technology Report 2017, menunjukan bahwa industri Fintech sedang berkembang secara dinamis di Indonesia mencapai angka 39% pada tahun 2016-2017. Jauh di atas angka perkembangan Fintech pada tahun 2014-2015 yang hanya pada kisaran 9%.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kita harus menunggu hingga mahasiswa yang dididik di universitas itu lulus dan berkontribusi bagi masyarakat? Atau apakah harus menunggu universitas menghasilkan penelitian yang dipublikasikan dan pada akhirnya bisa diterapkan di industri?.

Dulu, universitas dianggap berkerja dengan cara tersebut. Pada tahap awal, universitas menghasilkan publikasi dan lulusan, lalu produk universitas tersebut diserap industri, dan pada gilirannya punya dampak bagi masyarakat. Fakta di lapangan, tidak jarang, lulusan dan produk penelitian dari universitas tidak klop dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Banyak hasil penelitian yang hanya menjadi paper usang di perpustakaan. Paradigma universitas hanya menghasilkan publikasi dan penelitian harus dirubah karena tidak bisa menjawab tantangan kekinian yang semakin dinamis.

Saat ini, pendidikan tinggi dituntut memiliki program yang overlap dengan industri dan pemerintah. Perguruan tinggi tetap menghasilkan lulusan dan publikasi penelitian, namun diperkuat dengan kerjasama industri dan pemerintah. Kerjasama yang baik antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah yang dikenal dengan istilah triple helix, adalah salah kunci menghadapi era emas Indonesia. Melalui kerjasama triple helix, penelitian atau pengetahuan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi lebih bisa diaplikasikan untuk pembangunan bangsa melalui penerapan di dunia industri dan pembuatan kebijakan.

Dalam kerangka kerjasama triple helix, universitas bertransformasi dari hanya sekadar research university menjadi entrepreneurial university. Elemen pokok dalam gagasan perguruan tinggi entrepreneurial adalah: (i) pergeseran kegiatan penelitian dari basis individual menjadi basis kolektif/ berkelompok; dan (ii) perluasan dalam misi pendidikan dari pendidikan untuk individu menjadi pendidikan untuk pengembangan organisasi-organisasi (start up) di luar kampus, seperti melalui pelembagaan inkubasi bisnis dan pengembangan start up companies. Dengan perkataan lain, yang diluluskan oleh perguruan tinggi entrepreneurial bukan saja sarjana-sarjana secara individual, melainkan juga organisasi-organisasi baru seperti inkubator bisnis, dan start up companies yang menyediakan produk atau layanan baru. Dengan cara seperti ini, perguruan tinggi entrepreneurial berperan sebagai simpul dari jaringan perusahaan-perusahaan. Alumni dari perguruan tinggi entrepreneurial bukan hanya sarjana-sarjana, melainkan juga organisasi-organisasi dan start up companies.

Perguruan tinggi seperti ini biasa disebut dengan 4th generation of university.  Ciri utama dari 4th generation of university adalah adanya riset bersama antara perguruan tinggi dan industri. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yaitu program hilirisasi hasil-hasil riset. Perguruan Tinggi dituntut untuk responsif terhadap kebutuhan industri dan arah kebijakan pemerintah. Perguruan tinggi harus mampu menjalankan peran mentransformasi hasil-hasil penelitiannya menjadi applied research, karya penelitian yang bermanfaat secara nyata bagi peningkatan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, sesuai dengan visi dan misi pemerintah Indonesia.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Sinergi yang baik antara universitas dengan dunia usaha dan pemerintah, merupakan poin utama untuk menjadi entrepreneurial university. Dengan segala keterbatasan, perguruan tinggi tidak mungkin menanggung sendiri dana untuk riset atau penelitian. Untuk itu dibutuhkan kerja kolaboratif antara industri dan perguruan tinggi. Di satu sisi, industri menyediakan program dan anggaran, di sisi lain, perguruan tinggi menyediakan SDM untuk melakukan riset dan menghasilkan inovasi. Pemerintah pun harus berperan dalam aspek kelembagaan kerjasama dan insentif bagi universitas dan industri termasuk insentif perpajakan untuk mendorong kerjasama dalam kegiatan riset dan pengembangan secara kolaboratif.

Dengan sinergi triple helix ini, produk pendidikan dan penelitian yang dihasilkan bersama antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah bisa lebih diaplikasikan di dunia industri dan pembuatan kebijakan. Lulusan yang dihasilkan akan menjadi SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri, bahkan bisa menjadi inisiator dari start up company yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan di masa depan. Pada akhirnya, dengan sistem pendidikan yang baik kita bisa yakin bahwa SDM yang akan menahkodai masa depan Indonesia adalah SDM yang mampu membawa Indonesia menuju kemajuan.

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Universitas Pertamina, dengan visi menjadi universitas kelas dunia (world class university) di bidang energi, akan terus maju berkontribusi dalam rangka menyongsong pengembangan IPTEK dan berbagai tantangan bangsa di masa depan. Adik-adik, mahasiswa Universitas Pertamina, adalah calon-calon pemimpin dunia (global leaders). Sejak awal didirikannya, Universitas Pertamina telah berkomitmen untuk mengisi dunia industri dengan sarjana-sarjana yang kompeten di bidangnya masing-masing. Lulusan Universitas Pertamina akan menjadi scholar atau cendekia yang tidak hanya menguasai keilmuan, namun juga memiliki karakter profesional.

Karakter profesional tidak bisa diperoleh hanya dengan belajar di dalam kelas, namun memerlukan praktik langsung di lapangan. Dengan meningkatnya kebutuhan di dunia industri, maka Universitas Pertamina memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar langsung dari kalangan praktisi untuk penguatan di bidangnya masing-masing. Proses belajar mengajar mengarah kepada kompetensi di bidang industri, khususnya industri energi dan energi terbarukan. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena Universitas Pertamina memiliki dukungan fasilitas dan kedekatan dengan industri (close to the industry), bahkan Universitas Pertamina lahir dari dunia industri, yaitu PT Pertamina (Persero), BUMN di bidang energi terbesar di Indonesia.

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Selama dua tahun berjalan, Alhamdulillah ada banyak kemajuan dan progress, walaupun tentunya, hambatan dan tantangan yang dihadapi juga tidak sedikit. Di antara beberapa pencapaian di usia dua tahun ini adalah penyediaan infrastruktur laboratorium terintegrasi dan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya 10KWP dan tenaga angin 2KWP dengan bantuan pendanaan dari Direktorat Gas PT Pertamina (Persero).

Universitas Pertamina juga telah melakukan beberapa program kerjasama dalam rangka mewujudkan visi menjadi universitas kelas dunia (world class university). Sepanjang tahun 2017, Universitas Pertamina telah menjalin kerjasama yang terkait pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan universitas dan industri yang ada di dalam negeri maupun luar negeri di antaranya MoU program Student Exchange dengan IESEG, Lille Chatolic University, Perancis; Toyohashi University of Technology, Japan; National Institute of Technology, Akashi College, Japan; University of Twente, Belanda. Pada tahun 2017 Universitas Pertamina telah mengirim 6 mahasiswa ke IESEG, Perancis untuk student exchange selama 6 bulan. Pada tahun 2018 kami merencanakan untuk mengirim 15-20 mahasiswa ke Jepang dan Eropa Barat. Kerjasama penelitian telah kami rintis dengan berbagai Universitas Mitra antara lain, Joint Research dengan University Technology Petronas dan University Technology Malaysia yang akan dimulai tahun 2018 ini. Beberapa MOU untuk penjajakan program double degree telah ditandatangani dengan University of Kanazawa Japan dan Vilnius Gediminas Technical University, Vilnius, Lituania dan Sultan Qaboos University, Oman.

Dalam rangka menuju entrepreneurial university, Universitas Pertamina telah menjadi kemitraan dengan sektor industri, pemerintah, dan asosiasi profesi. Kerjasama dengan sektor industri di antaranya dengan PT Pertamina (Persero) -tentunya- dan anak perusahaan PT Pertamina (Persero), Halliburton Indonesia, PT Pelita Air Service, Innovasia Training & Consulting, dan PT Tugu Pratama Indonesia. Kerjasama dengan sektor pemerintahan atau lembaga di antaranya dengan Balitbang PU, KPPU, Pemkab Bojonegoro, Pemkot Tangerang Selatan, Pemda Kabupaten Bantul, Pemda Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, Pemprov Gorontalo, BATAN, dan Kedubes Kolombia. Selain itu, Universitas Pertamina juga telah menjalin kerjasama dengan asosiasi-asosiasi keahlian.

Pada tahun 2017, sinergi antar universitas BUMN diwujudkan dalam wadah Aliansi Perguruan Tinggi BUMN (APERTI BUMN). Universitas Pertamina dan empat perguruan tinggi BUMN lain yaitu Sekolah Tinggi Teknik PLN (STT PLN), Telkom University (TEL-U), Sekolah Tinggi Manajemen Logistik (STIMLOG), dan Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) bersinergi untuk mewujudkan visi menjadi aliansi yang maju dan unggul melalui sinergi antar perguruan tinggi BUMN dan perguruan tinggi lainnya di Indonesia meliputi kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat serta berkontribusi dalam pembangunan nasional khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Pada hari yang berbahagia ini, akan ada ada kuliah umum. Pada kesempatan kali ini kuliah umum akan diberikan oleh Wakil Menteri ESDM Republik Indonesia, Bapak Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D. Kami mengucapkan terima kasih atas pencurahan waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikan untuk menyiapkan kuliah umum ini. Semoga kita dapat memetik manfaat dari kuliah umum ini.

Perkenankan pada kesempatan Dies Natalis yang berbahagia ini, saya atas nama Rektor Universitas Pertamina menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang dalam kepada PT Pertamina (Persero), Pertamina Foundation dan seluruh sivitas akademika serta para pegawai Universitas Pertamina yang telah meraih prestasi yang membanggakan kita semua dalam periode 2017 sampai 2018. Di samping itu kami juga ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kami kepada seluruh mitra universitas yang telah bekerja sama dengan kami selama ini. Segala macam kemajuan yang terjadi, semuanya adalah kerja kolektif setiap individu bukan hanya hasil kerja satu atau dua orang saja.

Ucapan terimakasih yang dalam kami sampaikan kepada bapak dan ibu yang hadir pada acara Dies Natalis kali ini.

Sebagai akhir dari sambutan ini, marilah kita panjatkan doa semoga Allah melimpahkan kepada kita semua rasa kepedulian dan kebersamaan yang tinggi serta kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan kegiatan dan tugas kita bersama sehingga kita mampu berkontribusi maksimal dalam pengayaan khazanah keilmuan serta dalam proses pembangunan bangsa dan negara kita yang tercinta ini. Amin, Amin ya Rabbal ‘alamin..

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Prof. Akhmaloka, Ph.D.

Rektor Universitas Pertamina

Contact Appointment