Sambutan Rektor Universitas Pertamina pada Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina Tahun Akademik 2019/2020

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat Pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan ridha-Nya sehingga pada pagi hari yang sangat berbahagia ini kita semua dapat hadir dalam keadaan sehat, suka cita, dan bersemangat untuk melaksanakan salah satu agenda utama Universitas Pertamina, yaitu Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina Tahun Akademik 2019/2020.

Alhamdulillah, pada tahun ini Universitas Pertamina menerima 1.471 mahasiswa. Para mahasiswa baru yang tergabung di Universitas Pertamina adalah putra putri terpilih yang telah mengikuti tes seleksi jalur Ujian Masuk dan jalur nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dengan persaingan yang sangat ketat. Proses seleksi diikuti oleh 7.895 peserta dari berbagai penjuru tanah air.

Sebagai Rektor, perkenankan saya mengucapkan selamat datang di Universitas Pertamina. Selamat atas keberhasilan Adik-Adik, segenap mahasiswa baru Universitas Pertamina, atas kerja keras mengikuti seleksi mahasiswa baru Universitas Pertamina baik melalui jalur seleksi Ujian Masuk maupun melalui jalur seleksi nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), sehingga saat ini Adik-Adik telah resmi bergabung menjadi keluarga besar Universitas Pertamina. Saya yakin, Adik-Adik adalah putra-putri terbaik bangsa Indonesia, dan saya bangga menerima kedatangan Adik-Adik sebagai peserta didik di Universitas Pertamina.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai,

Adik-Adik mungkin sudah memiliki gambaran tentang Universitas Pertamina. Adik-Adik juga pasti sudah mencari informasi lengkap di berbagai kanal informasi Universitas Pertamina tentang apa yang akan dipelajari, apa yang perlu dipersiapkan, dan apa yang harus dilakukan untuk mengejar cita-cita Adik-Adik di masa mendatang.

Untuk semakin mengenalkan Adik-Adik dengan Universitas Pertamina, selama satu minggu mulai tanggal 10 sampai dengan 17 Agustus 2019, Adik-Adik akan mengikuti rangkaian kegiatan Pekan Orientasi dan Pengenalan Universitas Pertamina yang kita sebut POP-UP. Selain memperkenalkan Universitas Pertamina, kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan Adik-Adik dengan kultur perguruan tinggi yang tentunya berbeda dengan kultur SMA. Kami yakin Adik-Adik akan mampu melewati masa transisi dari siswa sekolah menengah atas menuju mahasiswa perguruan tinggi. Transisi ini bisa menjadi proses yang sulit. Saat ini Adik-Adik adalah bagian dari komunitas akademik yang lebih besar dibandingkan dengan SMA. Adik-Adik, secara pribadi, akan bertanggung jawab terhadap pengalaman balajar (learning experience) yang akan Adik-Adik jalani. Keberhasilan studi Adik-Adik ditentukan oleh usaha Adik-Adik masing-masing. Para dosen dan profesor akan berperan dalam memberikan inspirasi pengetahuan, namun mereka tidak akan menyuapi atau mencekoki ilmu pengetahuan kepada Adik-Adik. Namun, Adik-Adik lah yang akan menentuan sejauh mana khazanah ilmu pengetahuan yang akan diarungi. Para dosen dan profesor akan memberikan tantangan agar Adik-Adik mampu mencapai atau bahkan melewati batas kemampuan diri. Tentu, butuh waktu untuk membiasakan diri dalam lingkungan akademik perguruan tinggi, tapi yakinlah, kami semua yang ada di sini akan selalu mendukung dan membantu Adik-Adik untuk berjuang dalam proses pembelajaran.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai,

Selain kemampuan akademik, tentu ada pula kemampuan lain yang perlu Adik-Adik kembangkan di perguruan tinggi. Saat ini Adik-Adik dilantik menjadi mahasiswa baru, namun tak terasa akan tiba nanti saatnya saya akan mewisuda Adik-Adik sebagai sarjana. Adik-Adik akan berdiri dengan penuh kebanggaan memakai toga di depan kedua orang tua. Saya akan menggeser tali toga Adik-Adik dari sebelah kiri ke sebelah kanan sebagai simbol bahwa Adik-Adik sudah dianggap lulus dan siap untuk terjun ke masyarakat. Setelah lulus, banyak tantangan yang akan Adik-Adik hadapi. Tantangan itu tidak akan bisa diselesaikan jika hanya mengandalkan kemampuan akademik. Kemampuan akademik perlu ditunjang dengan ketrampilan (skill) yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Laporan berjudul “The Future of Jobs” yang dipublikasi oleh World Economic Forum dengan melakukan survey ke 350 eksekutif di 9 industri di 15 negara ekonomi terbesar di dunia merumuskan The 10 Skills you Need to Thrive in the Fourth Industrial Revolution[1], 10 keterampilan yang dibutuhkan agar berhasil di era revolusi industri ke-4. Sepuluh ketrampilan tersebut adalah pemecahan masalah yang rumit (complex problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kreativitas, manajemen manusia, koordinasi dengan orang lain, kecerdasan emosional, pengambilan keputusan, orientasi layanan, negosiasi, dan cognitive flexibility.

Perubahan dan munculnya kebutuhan terhadap ketrampilan baru di masa depan sangat dipengaruhi oleh perubahan teknologi. Kreativitas yang pada tahun 2015 berada pada posisi 10, melesat ke posisi tiga teratas dalam deretan ketrampilan kerja yang paling dibutuhkan pada tahun 2020, bersama dengan complex problem solving dan critical thinking. Dengan banyaknya produk baru, teknologi baru, dan cara kerja baru, maka pekerja di masa depan dituntut untuk lebih kreatif agar tidak digantikan oleh mesin. Robot mungkin dapat membantu kita mencapai tujuan dengan lebih cepat, namun, setidaknya hingga saat ini, robot tidak bisa sekreatif manusia dalam berpikir.

Di masa mendatang, bahkan saat ini sudah kita rasakan, dampak dari kemajuan teknologi otomasi. Penjaga gerbang tol yang sebelumnya manusia, saat ini sudah digantikan oleh mesin gerbang tol otomatis. Amazon, sebuah perusahaan elektronik multinasional terbesar di dunia yang didirikan oleh Jeff Bezos yang berkantor pusat di Seattle, Washington, Amerika Serikat berhasil melakukan efisiensi dan meraup keuntungan sangat besar dengan optimalisasi teknologi otomasi pada sistem pergudangan dan pengiriman barang. Meskipun saat ini masih menggunakan tenaga kerja manusia, namun dengan menggunakan sekitar 45.000 robot di 20 gudang yang masing-masing gudangnya berukuran rata-rata di atas 100.000 meter persegi, Amazon dapat melakukan efisiensi biaya $ 22 juta untuk setiap gudang otomatis. Dikutip dari theverge.com, Scott Anderson, Director of Robotics Fulfillment of Amazon mengatakan bahwa dalam jangka waktu 10 tahun dari sekarang, pergudangan Amazon akan sepenuhnya menggunakan sistem kecerdasan buatan dan robotik.[2]

Revolusi industri ke-4 (Fourth Industrial Revolution) adalah tantangan yang sedang kita hadapi. Kita sedang berada di era perubahan menuju otomasi. Revolusi industri merupakan titik balik dalam sejarah dunia karena mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan manusia. Revolusi industri dimulai pada tahun 1780an dengan dikembangkannya mesin uap yang dapat meningkatkan produktivitas manusia. Kemudian pada tahun 1870an, dunia mengalami revolusi industri kedua dengan dimulainya produksi massal yang didukung oleh pengembangan pembangkit tenaga listrik dan pabrik-pabrik perakitan (assembly line). Revolusi industri ketiga dimulai pada tahun 1960an yang juga dikenal dengan sebutan revolusi komputer atau revolusi digital karena ditandai dengan ditemukannya inovasi di bidang semikonduktor, mainframe computer (1960s), personal computer (1970s dan 1980s), dan internet (1990s).[3]

Dan saat ini, sebagaimana dikatakan oleh Klaus Schwab, pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) dalam bukunya “The Fourth Industrial Revolution”, kita sedang di era revolusi industri keempat yang ditandai oleh otomasi (automation) dan megatrend perkembangan pada aspek fisik, digital, dan biologis. Pada aspek fisik, telah dikembangkan kendaraan tanpa pengemudi, mesin cetak tiga dimensi, advanced robotics, dan material-material baru seperti grafena (graphene) yang lebih kuat 200 kali lipat dari besi, jutaan kali lebih tipis dari rambut manusia, dan merupakan penghantar panas dan listrik yang sangat efisien. Pada aspek digital, saat ini telah dikembangkan artificial intelligence, big data, dan Internet of Things (IoT) atau biasa disebut internet of allthings yang memungkinkan teknologi menghubungkan antara manusia dengan benda berupa produk, jasa, tempat, dan sebagainya. Pada aspek biologis, dengan kemajuan teknologi komputasi, para ilmuwan dapat menguji variasi genetik dengan lebih akurat.[4]

Di era revolusi industri ke 4 atau pula yang menyebut industrial revolution 4.0 kita dituntut responsif terhadap perubahan. Perubahan dan transformasi adalah suatu keniscayaan bagi perguruan tinggi. Perguruan tinggi berada pada posisi yang dinamis di tengah-tengah masyarakat. Cara-cara bagaimana suatu perguruan tinggi berperan di masyarakat, terus-menerus mengalami pembaharuan seiring dengan perubahan dan tantangan yang ada di setiap zaman.

Seiring dengan perubahan dan tantangan zaman, perguruan tinggi terus menerus mengalami perkembangan dan transformasi yang dinamis. Pada awalnya, perguruan tinggi modern bercikal bakal pada gagasan perguruan tinggi Humboldtian yang digagas oleh Wilhelm von Humboldt pada tahun 1809. Filosofi yang mendasarinya adalah filosofi idealis bahwa pendidikan tinggi merupakan wadah yang penting bagi pembentukan karakter manusia. Dalam gagasan Humboldtian, ilmu-ilmu pengetahuan seperti filsafat, matematika, filsafat alam (natural philosophy), dan humaniora mendapat prioritas utama, sementara ilmu pengetahuan empiris dan eksperimental dipandang sebagai sesuatu yang sekunder.

Akibatnya, pertumbuhan industri-industri kurang mendapat dukungan dari penelitian-penelitian di perguruan tinggi Humboldtian. Sebagai respons atas situasi seperti ini, sejumlah organisasi profesi yang terkait dengan industri mengambil inisiatif untuk mendirikan institusi perguruan tinggi berbentuk lain, yaitu Technische Hochschule yang fokus utamanya di pengajaran (teaching) untuk menghasilkan tenaga ahli teknik yang mengisi kebutuhan tenaga kerja di industri-industri.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Di masa Perang Dingin (Cold War) yang dimulai sekitar tahun 1947, kontestasi politik dan isu-isu pertahanan menjadi faktor penting yang memacu investasi negara dalam jumlah yang besar ke dalam penelitian fundamental (fundamental research) di perguruan-perguruan tinggi penelitian (research universities) yang dikenal dengan universitas generasi ketiga.

Akan tetapi, berakhirnya Perang Dingin membawa perubahan yang mendasar pada kebijakan penelitian dan pendidikan tinggi. Ketika isu-isu pertahanan dianggap sudah tidak relevan lagi, tantangan baru yang dihadapi oleh perguruan-perguruan tinggi di mancanegara adalah bagaimana memberikan kontribusi dalam menjawab masalah persaingan ekonomi global.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Setelah melalui transformasi 3 generasi, yaitu Humboldtian university, teaching university, dan research university, saat ini perguruan tinggi dituntut untuk bertransformasi menjadi perguruan tinggi generasi ke-4 (fourth generation university). Perguruan tinggi generasi ke-4 adalah entrepreneurial university. Elemen pokok dalam gagasan perguruan tinggi entrepreneurial adalah pergeseran kegiatan penelitian dari berbasis individual menjadi berbasis kolektif atau berkelompok dan perluasan misi pendidikan dari pendidikan untuk individu menjadi pendidikan untuk pengembangan organisasi-organisasi di luar kampus yang di antaranya melalui pelembagaan inkubator bisnis dan pengembangan startup companies. Dengan perkataan lain, yang diluluskan oleh perguruan tinggi entrepreneurial bukan saja individu-individu sarjana, melainkan juga organisasi-organisasi baru atau perusahaan-perusahaan rintisan yang kita kenal dengan sebutan startup companies. Dengan cara seperti ini, perguruan tinggi entrepreneurial berperan sebagai simpul dari jaringan perusahaan-perusahaan (companies network).

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai,

Tantangan yang akan Adik-Adik hadapi di masa depan cukup berat. Akan ada persaingan tenaga kerja yang yang ketat. Pesaing Adik-Adik bukan hanya sesama tenaga kerja manusia, namun juga teknologi otomasi. McKinsey Global Institute dalam laporannya yang terbit Desember 2017 memperkirakan bahwa akan ada 400-800 juta orang di dunia yang akan kehilangan pekerjaan digantikan oleh otomasi (automation) hingga tahun 2030 nanti.[5] Jika individu-individu usia produktif tidak dibekali dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang memadai, maka tingkat pengangguran diperkirakan akan sangat tinggi. Adik-Adik adalah putra putri terbaik bangsa yang punya kesempatan untuk berkontribusi lebih untuk Indonesia karena telah sanggup meraih kesempatan untuk menempuh perguruan tinggi yang tidak bisa didapatkan oleh putra putri bangsa yang lainnya.

Perguruan tinggi memegang peran sentral ditengah arus perubahan yang begitu pesat. Hampir semua hal di era revolusi industri ke-4, kecuali bahasa daerah, akan sangat cepat berubah. Konsep baru, teknologi baru, pengetahuan baru, bahkan cabang ilmu baru akan terus bermunculan. Maka, perguruan tinggi bekerja sama dengan pemerintah dan industri dituntut untuk mampu bersama-sama mempersiapkan pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner), yaitu individu-individu yang memiliki motivasi kuat untuk terus belajar. Belajar sepanjang hayat adalah elemen esensial untuk sukses di era revolusi industri ke-4.[6] Kita tidak tahu perkembangan apa yang akan terjadi besok, kita tidak tahu pasti tantangan apa yang akan kita hadapi, maka perguruan tinggi harus mempersiapkan individu-individu menjadi sarjana plus yang memiliki fikiran cerdas, fleksibel, dan kooperatif, yang selain mampu bekerja secara profesional juga mampu menginisiasi startup companies.

Massachusette Institute Technology (MIT) adalah perguruan tinggi terkemuka di Amerika yang bisa kita jadikan contoh keberhasilan dalam upaya menginisiasi perusahaan. Berdasarkan hasil riset Bank Boston, pada tahun 1994, MIT telah mampu melahirkan 4.000 perusahaan dari tangan alumninya dengan omset 232 miliar dollar AS per tahun dan mempekerjakan 1,1 juta orang. Para scientist, engineer, dan manajer MIT memiliki keyakinan bahwa ukuran kesuksesan tidak cukup hanya dengan sekadar inovasi suatu produk, konsep, atau teknologi. Ukuran dari kesuksesan adalah komersialisasi global dan penerimaan secara luas terhadap hasil-hasil inovasi.[7]

Di tahun 2019, berdasarkan data dari startupranking, saat ini Amerika Serikat memiliki 46.986 startup dan berada di posisi pertama sebagai negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia. Indonesia menempati urutan ke-5 dengan jumlah startup sebanyak 2.129, terpaut jauh dari jumlah startup yang ada di Amerika Serikat.[8] Namun kita patut berbangga karena tahun lalu, Indonesia berada di posisi ke-6.

Peningkatan jumlah startup di Indonesia adalah trend yang positif. Trend ini menggambarkan bahwa jiwa dan sikap kewirausahaan semakin tumbuh di kalangan pemuda. Sebagaimana diketahui, startup yang semakin tumbuh menjamur, hampir seluruhnya dimotori oleh pemuda-pemuda yang kreatif di bidangnya masing-masing. Kami yakin. Adik-Adik akan menjadi pelopor startup yang akan membawa kemajuan bagi Indonesia.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai,

Universitas Pertamina, dengan visi menjadi universitas kelas dunia (world class university) di bidang energi, akan terus maju berkontribusi dalam rangka menyongsong pengembangan IPTEK dan berbagai tantangan bangsa di masa depan. Adik-adik, mahasiswa Universitas Pertamina, adalah calon-calon pemimpin dunia (global leaders). Sejak awal didirikannya, Universitas Pertamina telah berkomitmen untuk mengisi dunia industri dengan sarjana-sarjana yang kompeten di bidangnya masing-masing. Lulusan Universitas Pertamina akan menjadi sarjana plus, yaitu scholar atau cendekia yang tidak hanya menguasai keilmuan, namun juga memiliki karakter profesional.

Di kampus ini, Adik-Adik akan kami ajak menjadi lifelong learners, pembelajar sepanjang hayat. Kurikulum di Universitas Pertamina didesain sesuai dengan kebutuhan dan tantangan di masa depan, di antaranya dengan memasukan 10 ketrampilan yang dibutuhkan di tahun 2020. Selanjutnya, hampir setiap minggu, Adik-Adik akan mendapat kesempatan untuk meningkatkan wawasan dalam kegiatan UPbringing yang mendatangkan tokoh-tokoh yang sukses di bidangnya masing-masing. Selain itu, pengajar di Universitas Pertamina tidak hanya dosen, namun juga praktisi/ pelaku industri. Harapannya, Adik-Adik tidak hanya belajar dalam lingkup kelas atau laboratorium, tetapi juga bisa belajar di luar kelas dan di luar laboratorium, baik dalam bentuk fieldtrip, pertukaran pelajar ke luar negeri, maupun dalam bentuk internship di sektor industri. Tahun ini, ada sekitar 870 mahasiswa angkatan pertama yang sedang melakukan kerja praktik, sekitar 580 di antaranya melakukan kerja praktik di PT Pertamina (Persero) dan anak perusahaannya. Universitas Pertamina juga telah memiliki mitra di 25 universitas terkemuka di luar negeri yang tersebar di benua Amerika, Eropa, Asia, dan Australia. Secara rutin, fungsi International Office Universitas Pertamina melakukan kegiatan pertukaran pelajar dalam program Universitas Pertamina Study Abroad (UP-SA). Adik-Adik dapat mengikuti program tersebut untuk kuliah kuliah di luar negeri dalam durasi waktu tertentu. Selain itu, Universitas Pertamina juga menerima inbound student dari universitas terkemuka di luar negeri.

Segenap mahasiswa baru yang saya cintai,

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin berpesan, Adik-Adik adalah putra putri bangsa terbaik karena telah sanggup meraih kesempatan yang tidak bisa didapatkan oleh putra putri bangsa yang lainnya. Akan tetapi, menjadi putra putri bangsa terbaik juga membawa konsekuensi. Di pundak Adik-Adik juga terdapat tanggung jawab untuk turut menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia. Kemajuan bangsa Indonesia bergantung pada kontribusi Adik-Adik kelak ketika Adik-Adik telah menyelesaikan studi dan berkiprah di berbagai arena kehidupan di masyarakat. Masyarakat dan bangsa Indonesia membutuhkan kontribusi terbaik Adik-Adik untuk menghela dan memimpin perubahan-perubahan bangsa ke arah yang lebih sejahtera dan lebih tercerahkan. Adalah wajar dan adil bila tanggung jawab yang lebih besar diemban oleh mereka yang mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan memiliki kemampuan yang lebih.

Adik-Adik harus belajar secara sungguh-sungguh sehingga akan menjadi bagian dari SDM Indonesia yang tangguh. Dengan IPTEK yang Adik-Adik pelajari dan kembangkan selama mengikuti pendidikan di Universitas Pertamina disertai dengan motivasi kuat untuk menjadi lifelong learner saya percaya kita mampu membangun Indonesia yang lebih sejahtera dan beradab. Dengan segala potensi yang ada, Adik-Adik berpotensi menjadi pemimpin global (global leaders) bila disertai dengan semangat, wawasan yang luas, sanggup menembus pluralitas pemikiran, sanggup memahami permasalahan dalam pluralitas perspektif, memahami dengan pemikiran yang kritis dan berpijak pada prinsip yang kokoh, serta memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran maupun tindakan atas dasar prinsip kesetaraan, dan berpegang pada nilai-nilai universal.

Bapak/Ibu para undangan dan hadirin yang kami hormati,

Pada hari yang berbahagia ini, sesuai dengan tradisi dalam acara penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus, akan ada ada kuliah umum. Pada kesempatan kali ini tema yang diangkat adalah keberhasilan pemuda dalam membawa startup company menjadi unicorn dengan nilai di atas 1 miliar Dollar Amerika Serikat atau setara Rp 13,5 triliun. Indonesia kini telah memiliki 4 unicorn yang sudah cukup dikenal masyarakat luas yaitu Bukalapak, Go-Jek, Tokopedia, dan Traveloka. Alhamdulillah telah hadir bersama kita Bapak Achmad Zaky. Beliau masih sangat muda, meskipun saya panggil bapak. Kuliah umum pagi hari ini akan diberikan oleh Bapak Achmad Zaky, seorang pemuda yang sukses menjadi CEO Bukalapak. Ia telah sukses membawa Bukalapak dari startup company menjadi unicorn kebanggaan Indonesia.

Kami mengucapkan terima kasih atas pencurahan waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikan untuk menyiapkan kuliah umum ini. Kami berharap kuliah umum ini akan memberikan gambaran tentang tantangan kerja di masa depan dan banyaknya peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pemuda khususnya dalam hal pengembangan startup.

Perkenankan juga pada kesempatan yang berbahagia ini, saya atas nama Rektor Universitas Pertamina menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang dalam kepada PT Pertamina (Persero), Pertamina Foundation dan seluruh sivitas akademika Universitas Pertamina. Selanjutnya, kami juga ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh mitra universitas dan segenap insan pers yang telah bekerja sama dengan kami selama ini.

Bapak/Ibu para undangan dan hadirin yang kami hormati,

Sebagai akhir dari sambutan ini, marilah kita panjatkan doa semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kepada kita semua rasa kepedulian dan kebersamaan yang tinggi serta kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan kegiatan dan tugas kita bersama di Kampus Universitas Pertamina yang kita banggakan ini. Kepada adik-adik mahasiswa, selamat belajar dan berkarya.

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Prof. Akhmaloka, Ph.D.

Rektor Universitas Pertamina

 

[1] Sumber: https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-10-skills-you-need-to-thrive-in-the-fourth-industrial-revolution/ diakses pada 1 Agustus 2019 Pukul 08.00 WIB

[2] Sumber: https://www.theverge.com/2019/5/1/18526092/amazon-warehouse-robotics-automation-ai-10-years-away diakses pada 9 Agustus 2019 pukul 07.00 WIB.

[3] Schwab, Klaus. (2016). The Fourth Industrial Revolution. Switzerland: World Economic Forum

[4] Ibid.

[5] McKinsey Global Institute. Jobs Lost, Jobs Gained: Workforce Transitions in A Time of Automation. Desember 2017

[6] Gleason, Nancy W. (2018). Higher Education in the Era of the Fourth Industrial Revolution. Singapore: Palgrave Macmillan

[7] News, MIT. (5 Maret 1997). MIT Graduates Have Started 4,000 Companies With 1,100,000 Jobs, $232 Billion in Sales in ’94. Diambil kembali dari MIT News: http://news.mit.edu/1997/jobs pada 19 Juli 2018 pukul 14.00 WIB

[8] Sumber: https://www.startupranking.com/countries diakses pada 31 Juli 2019 pukul 22.00 WIB

Contact Appointment