Sambutan Rektor Universitas Pertamina pada Sidang Terbuka Dies Natalis Ke-3 Universitas Pertamina Tahun 2019 “Revitalisasi Perguruan Tinggi Indonesia”

Yang kami hormati,

Kepala SKK Migas, Bapak Dr. Ir. Dwi Soetjipto, MM;

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Ibu Nicke Widyawati beserta para Direksi PT Pertamina (Persero);

Pimpinan dan anggota Dewan Penasehat Universitas Pertamina;

Bapak/Ibu Para Rektor mitra Universitas Pertamina atau yang mewakili;

Pimpinan Pertamina Foundation;

Para Pengelola Universitas Pertamina;

Rekan-rekan wartawan, baik media cetak maupun elektronik;

Rekan-rekan dosen dan tenaga kependidikan;

Para mahasiswa Universitas Pertamina yang saya banggakan;

Para undangan yang saat ini hadir;

Dan Hadirin sekalian yang saya muliakan

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat Pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan ridha-Nya sehingga pada pagi hari yang sangat berbahagia ini, kita semua bisa hadir di Gedung PWP dalam rangka melaksanakan Sidang Terbuka Dies Natalis Universitas Pertamina yang Ketiga.

Tanpa terasa, Universitas Pertamina telah berusia tiga tahun. Masih teringat jelas, tiga tahun yang lalu, pada tanggal 11 Februari 2016, Universitas Pertamina diresmikan oleh Menristekdikti Republik Indonesia dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero). Dalam sambutannya, Bapak Dr. Dwi Soetjipto yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) mengutarakan bahwa Universitas Pertamina didirikan dengan harapan dapat berkontribusi membangun ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki dampak besar bagi kemajuan bangsa, khususnya dalam menghadapi persaingan di kawasan ASEAN dan global. Di tahun ketiga ini, insya Allah, semangat yang melandasi kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat Universitas Pertamina masih tetap sama dengan semangat pada saat universitas ini diresmikan yaitu semangat berkontribusi membangun ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki dampak besar bagi kemajuan bangsa.

Para undangan dan hadirin yang saya hormati,

Pada kesempatan ini, perkenankan kami mengetengahkan suatu hal yang menurut hemat kami perlu kita cermati bersama yaitu “Revitalisasi Perguruan Tinggi Indonesia”.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam kemajuan suatu bangsa. Dalam setiap perjalanan sejarah bangsa yang maju, selalu dapat kita temukan peran perguruan tinggi dalam dinamika masyarakatnya. Bahkan, perguruan tinggi dapat kita katakan sebagai institusi tertua yang ada di negara-negara maju karena tidak mungkin sebuah negara dapat maju dan berkembang, jika tidak memiliki sistem pendidikan yang bermutu.

Pendidikan tinggi memiliki peran dan posisi strategis bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menegaskan bahwa tujuan pendirian negara, antara lain, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak mungkin suatu negara sanggup memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa adanya pendidikan tinggi yang berkualitas.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Posisi perguruan tinggi di masyarakat merupakan hal yang dinamis. Seiring dengan perubahan dan tantangan zaman, perguruan tinggi terus menerus mengalami perkembangan dan transformasi. Pada awalnya, perguruan tinggi modern bercikal bakal pada gagasan perguruan tinggi Humboldtian. Istilah ini merujuk pada Wilhelm von Humboldt, seorang ahli filsafat dan ahli linguistik dari Kerajaan Prusia. Pada tahun 1809-1810, Humboldt menggagas bentuk lembaga pendidikan tinggi atas dasar filosofi idealis, yaitu University of Berlin yang saat ini dikenal dengan nama Humboldt-Universität zu Berlin. Humbolt meyakini bahwa sistem pendidikan harus dibangun berdasarkan pengetahuan dan analisis yang tidak memihak. Para mahasiswa dididik untuk menjadi individu yang otonom dengan mengembangkan pemikiran-pemikiran yang khas dalam lingkungan akademik yang bebas. Dalam gagasan Humboldtian, ilmu-ilmu pengetahuan umum seperti filsafat, matematika, filsafat alam (natural philosophy), dan humaniora mendapat prioritas utama, sementara ilmu pengetahuan empiris dan eksperimental dipandang sebagai sesuatu yang sekunder.

Perkembangan perguruan tinggi Humboldtian di Eropa abad ke-19 menimbulkan masalah tersendiri, yakni terabaikannya kebutuhan kelas pengusaha dan pekerja industri. Pertumbuhan industri-industri kurang mendapat dukungan dari penelitian-penelitian di perguruan tinggi. Sebagai respons atas situasi seperti ini, sejumlah organisasi profesi yang terkait dengan industri mengambil inisiatif untuk mendirikan Technische Hochschule. Pendirian lembaga ini bertujuan mencetak tenaga ahli teknik yang mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja di industri. Di Perancis abad ke-19, lembaga demikian diberi nama Grandes Ecoles. Ini merupakan suatu bentuk sekolah teknik profesional yang memberikan layanan pendidikan dan pelatihan untuk menghasilkan tenaga ahli. Saat ini, perguruan tinggi seperti ini biasa dikenal dengan sebutan teaching university.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Pada awal abad ke 20, penelitian yang dihasilkan perguruan tinggi mulai mendapat peran strategis dalam sejarah perkembangan perguruan tinggi. Gagasan komersialisasi penelitian, untuk pertama kalinya dikenal dan dipraktikkan di Amerika Serikat. Di masa Perang Dingin, kontestasi politik dan isu-isu pertahanan menjadi faktor penting yang memacu investasi negara dalam jumlah yang besar pada proyek penelitian fundamental di perguruan-perguruan tinggi penelitian (research universities).

Akan tetapi, berakhirnya Perang Dingin membawa perubahan yang mendasar pada kebijakan penelitian dan pendidikan tinggi. Ketika isu-isu pertahanan dianggap sudah tidak relevan lagi, berkembang luas tuntutan masyarakat bahwa program-program penelitian yang menggunakan anggaran negara harus akuntabel dan responsif terhadap kebutuhan publik. Penelitian dan pendidikan juga harus memberikan dampak yang positif bagi kemajuan ekonomi dan kualitas kehidupan sosial secara keseluruhan. Berakhirnya Perang Dingin sekaligus merupakan awal dari liberalisasi perdagangan global. Tantangan baru yang dihadapi oleh perguruan-perguruan tinggi di mancanegara adalah bagaimana memberikan kontribusi dalam menjawab masalah persaingan ekonomi global.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Setelah melalui transformasi 3 generasi dalam menjawab tantangan zaman, yaitu Humboldtian university, teaching university, dan research university, saat ini perguruan tinggi dituntut untuk bertransformasi menjadi perguruan tinggi generasi ke-4 (fourth generation university) yang disebut entrepreneurial university. Elemen pokok dalam gagasan perguruan tinggi entrepreneurial adalah pergeseran kegiatan penelitian dari berbasis individual menjadi berbasis kolektif atau berkelompok dan perluasan misi pendidikan dari pendidikan untuk individu menjadi pendidikan untuk pengembangan organisasi-organisasi di luar kampus, di antaranya melalui pelembagaan inkubator bisnis dan pengembangan startup companies. Dengan kata lain, yang diluluskan oleh perguruan tinggi entrepreneurial bukan saja individu-individu sarjana, melainkan juga organisasi-organisasi baru atau perusahaan-perusahaan rintisan yang kita kenal dengan sebutan startup companies. Dengan cara seperti ini, perguruan tinggi entrepreneurial berperan sebagai simpul dari jaringan perusahaan-perusahaan (companies network).

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Indonesia memiliki sekitar 120 Perguruan Tinggi Negeri dan lebih dari 3.500 perguruan tinggi swasta. Jumlah tersebut jauh melebihi jumlah perguruan tinggi yang ada di China yang berjumlah sekitar 2.000 perguruan tinggi dengan jumlah penduduk 1,4 miliar jiwa.

Banyaknya jumlah perguruan tinggi tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mengatur dan me-manage-nya. Tentunya, semua perguruan tinggi dituntut untuk berperan dalam membangun Indonesia. Namun pertanyaannya, apakah setiap perguruan tinggi telah mampu bertransformasi menjadi 4th generation university? Atau justru sebagian besar di antaranya masih merupakan teaching university?

Selain itu, kita juga dihadapkan pada pertanyaan, apakah semua perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi entrepreneurial university untuk berperan dalam pembangunan bangsa? Atau justru diperlukan komposisi yang ideal antara teaching university, research university, dan entrepreneurial university. Humboldtian University tidak dimasukan dalam pilihan karena sistem pendidikan tinggi yang diilhami oleh model pendidikan sederhana yang diatur oleh komunitas cendekia berdasarkan nilai-nilai kebebasan dan otonomi akademik telah banyak berubah pasca munculnya era negara-bangsa.

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Semua perguruan tinggi di Indonesia dituntuk untuk melakukan Tridharma perguruan tinggi. Perguruan tinggi harus bisa memberikan kontribusi kepada bangsa di bidang pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di aspek pertama, perguruan tinggi dituntut melaksanakan pengajaran yang baik sehingga bisa menyedikan lulusan yang berkualitas untuk menjadi SDM di Industri. Kemudian, perguruan tinggi juga dituntut untuk menghasilkan ilmu pengetahuan melalui penelitian. Dan tuntutan yang lain adalah perguruan tinggi harus mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui kegiatan pengabdian masyarakat dalam membangun komunitas, membangun kesejahteraan, membangun ekonomi, dan sebagainya.

Namun, kita bisa mengamati bahwa mayoritas perguruan tinggi di Indonesia ternyata masih fokus pada penyiapan SDM yang siap kerja. Bahkan, kita bisa mengatakan bahwa 99% perguruan tinggi swasta berorientasi pada penyiapan SDM. Hal ini wajar terjadi karena mayoritas masyarakat masih menganggap bahwa keberhasilan seorang wisudawan adalah ketika ia mudah memperoleh perkerjaan yang sesuai dengan jurusannya. Untuk memenuhi ekspektasi tersebut, maka perguruan tinggi menyiapkan kurikulum yang sesuai dengan dunia kerja. Bahkan, Pemerintah melalui Kementerian Ristekdikti terus meningkatkan pendidikan vokasi untuk menunjang penguasaan keahlian terapan tertentu yang dibutuhkan oleh industri. Hal ini menggambarkan bahwa misi mayoritas Perguruan Tinggi Indonesia adalah misi pengajaran sebagai teaching university.

Kondisi pendidikan tinggi Indonesia yang masih didominasi oleh satu aspek misi yaitu pengajaran (teaching) tentu bukan merupakan kondisi ideal dalam pembangunan bangsa. Diperlukan komposisi yang tepat antara teaching university, reseach university, dan entrepreneurial university. Pada aspek ini lah kita bicara mengenai revitalisasi perguruan tinggi Indonesia.

Perguruan tinggi sebagai elemen vital bangsa dituntut oleh banyak pihak untuk melakukan banyak hal. Pemerintah mengatakan bahwa penelitian yang dihasilkan perguruan tinggi tidak applied. Industri juga mengatakan penelitian perguruan tinggi terlalu mengawang-awang sehingga tidak sinkron dengan kebutuhan industri. Di sisi lain, perguruan tinggi merasa bahwa penelitian yang dilakukan sudah tepat karena sudah sesuai dengan kaidah ilmiah. Dalam aspek pengajaran, industri merasa, SDM lulusan perguruan tinggi masih kurang terampil untuk untuk menjadi SDM di industri, sehingga pada akhirnya industri tetap harus mengadakan pelatihan intensif dengan dana yang cukup besar. Dengan kondisi semacam ini, tidak terjadi link and match antara perguruan tinggi dan industri.

Di satu sisi perguruan tinggi dituntut banyak hal, namun di sisi lain, persoalan yang lebih krusial adalah, siapa yang harus mengatur itu semua? Pada aspek regulasi inilah, pemerintah semestinya berperan lebih dalam. Pemerintah adalah regulator yang berwenang untuk membuat aturan tersebut.

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Beberapa tahun belakangan ini, beberapa perguruan tinggi telah mendeklarasikan diri sebagai research university dan ada pula di antaranya yang mendeklarasikan sebagai entrepreneurial university, termasuk Universitas Pertamina. Namun, pada praktiknya, banyak sekali tantangan yang dihadapi dalam perjalanan menuju entrepreneurial university. Padahal, entrepreneurial university adalah jawaban atas tantangan abad 21. Di era ini, perguruan tinggi dituntut untuk berkontribusi lebih besar dalam memberikan pelayanan publik melalui hasil-hasil penelitian yang aplikatif dan organisasi-organisasi baru atau perusahaan-perusahaan rintisan yang dapat menjadi solusi permasalah bangsa.

Untuk mencapai kondisi ideal, dibutuhkan sinergi yang baik antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan pemerintah. Dengan segala keterbatasannya, perguruan tinggi tidak mungkin menanggung sendiri dana untuk riset atau penelitian. Untuk itu dibutuhkan kerja kolaboratif antara industri dan perguruan tinggi. Di satu sisi, industri menyediakan program dan anggaran, di sisi lain, perguruan tinggi menyediakan SDM untuk melakukan riset dan menghasilkan inovasi. Pemerintah pun harus berperan dalam aspek kelembagaan kerjasama dan insentif bagi perguruan tinggi dan industri untuk mendorong kerjasama dalam kegiatan riset dan pengembangan secara kolaboratif.

Kementerian Ristekdikti perlu menjadi panglima dalam reorientasi perguruan tinggi Indonesia. Memang, pemerintah tidak bisa melakukan penugasan langsung kepada perguruan tinggi untuk menjadi teaching university, reseach university, atau entrepreneurial university karena itu masuk dalam ranah visi perguruan tinggi yang bersifat independen. Namun, pemerintah semestinya bisa mengeluarkan kebijakan dan memberikan insentif dalam rangka menyeimbangkan peran perguruan-perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Jangan sampai terjadi, dari 3.500 lebih perguruan tinggi Indonesia, semuanya menjadi teaching university.

Pemerintah juga memiliki wewenang dalam membuat kebijakan dan memberikan insentif insentif kepada industri sehingga mereka terdorong untuk melakukan kerjasama dan kolaborasi dalam hal penelitian dan pengembangan dengan perguruan tinggi. Tax deductible barangkali dapat diberikan kepada industri yang mengalokasikan dana RnD bersama perguruan tinggi. Di bagian ini, kementerian-kementerian terkait seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Ristekdikti perlu berkomunikasi untuk merencanankan kebijaan insentif yang akan diberikan.

Sinergi triple-helix sebagai basis entrepreneurial university akan terwujud jika tiga elemen bangsa yaitu perguruan tinggi, pemerintah, dan industri mampu bekerja sama dalam satu wahana yang dimiliki bersama. Wahana tersebut dapat berupa science park, techno park, atau innovation park. Di wahana itulah, terjadi komunikasi yang intensif antara perguruan tinggi dan industri yang pada akhirnya menghasilkan produk yang dapat diterima publik baik di level lokal, regional, maupun global.

Pada praktiknya saat ini, pemerintah daerah di beberapa wilayah sudah mendirikan wahana techno park, namun, perguruan tinggi dan industri kurang merasa memiliki wahana tersebut. Pendiriannya masih sebatas analisa yang dilakukan oleh pemerintah tanpa melibatkan perguruan tinggi dan industri setempat. Pada akhirnya, science atau techno park tersebut hanya menjadi pusat pendidikan dan pelatihan kerja, atau bahkan hanya menjadi museum laboratorim. Tujuan science atau techno park sebagai pusat lahirnya inovasi tidak terwujud karena kurangnya interaksi yang terjadi antara perguruan tinggi dan industri.

Tentu, akan berbeda hasilnya jika pendirian science atau techno park adalah usulan dari perguruan tinggi dan industri setempat dengan difasilitasi oleh pemerintah daerah. Kementerian Ristekdikti sebagai perwakilan pemerintah pusat dapat menyelenggarakan kompetisi untuk menyerap aspirasi dari berbagai perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah setempat untuk membuat proposal bersama untuk mendirikan science atau techno park dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi di daerah setempat. Dalam penyusunan rencana pendirian science atau techno park, pemerintah daerah dapat berperan dalam mencarikan lokasi yang strategis sekaligus menjadi fasilitator, sedangkan perguruan tinggi dan industri berperan dalam analisis urgensi pendirian science atau techno park dan lingkup kerja yang akan dilakukan di wahana tersebut.

Dari proposal-proposal inilah kemudian Kementerian Ristekdikti dapat melakukan pemetaan terkait perguruan tinggi mana yang layak mendapatkan insentif dalam rangka menuju entrepreneurial university.

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Insentif pemerintah adalah muara dari revitalisasi perguruan tinggi. Pemerintah memiliki andil besar dalam memetakan dan memberikan insentif kepada perguruan tinggi untuk menjadi teaching university, reseach university, atau entrepreneurial university. Semua perguruan tinggi tidak harus menanggung beban yang sama sebagai research university atau entrepreneurial university. Beban yang diberikan kepada perguruan tinggi harusnya sesuai dengan misi yang ingin diselesaikan oleh perguruan tinggi tersebut. Perguruan tinggi yang fokus di pengajaran misalnya, tentu pembobotan terbesarnya adalah di aspek pengajaran dalam rangka menghasilkan generasi yang siap menjadi SDM yang terdidik dan terampil. Dengan klasterisasi yang jelas, tentu kontribusi perguruan tinggi sebagai elemen vital dalam pembangunan bangsa akan lebih maksimal.

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Dies Natalis ke-3 adalah momentum penting bagi Universitas Pertamina untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan. Momentum Dies Natalis merupakan salah satu sarana mempublikasikan kemajuan dan progress kepada segenap stake holder.

Dalam rangka mewujudkan visi menjadi universitas kelas dunia (world class university), sepanjang tahun 2018, Universitas Pertamina telah menjalin kerjasama yang terkait pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan universitas dan industri yang ada di kawasan ASIA, Amerika Serikat, dan Eropa.

Para insan pendidikan dan hadirin yang saya muliakan,

Pada hari yang berbahagia ini, akan ada orasi ilmiah yang akan disampaikan oleh Kepala SKK Migas, Bapak Dr. Ir. Dwi Soetjipto, MM. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada atas pencurahan waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikan untuk menyiapkan orasi ilmiah ini. Semoga kita semua dapat memetik manfaat dari orasi ilmiah ini.

Perkenankan pada kesempatan Dies Natalis yang berbahagia ini, saya atas nama Rektor Universitas Pertamina menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang dalam kepada PT Pertamina (Persero), Pertamina Foundation dan seluruh sivitas akademika serta para pegawai Universitas Pertamina yang telah meraih prestasi yang membanggakan kita semua dalam periode 2018 sampai 2019. Di samping itu kami juga ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kami kepada seluruh mitra universitas yang telah bekerja sama dengan kami selama ini. Segala macam kemajuan yang terjadi, semuanya adalah kerja kolektif setiap individu.

Ucapan terimakasih yang dalam kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu, Para Undangan, Rekan-Rekan Media, serta Adik-Adik Mahasiswa yang hadir pada acara Sidang Terbuka Dies Natalis Universitas Pertamina yang Ketiga.

Sebagai akhir dari sambutan ini, marilah kita panjatkan doa semoga Allah melimpahkan kepada kita semua rasa kepedulian dan kebersamaan yang tinggi serta kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan kegiatan dan tugas kita bersama sehingga kita mampu berkontribusi maksimal dalam pengayaan khazanah keilmuan serta dalam proses pembangunan bangsa dan negara kita yang tercinta ini. Amin, Amin ya Rabbal ‘alamin..

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Prof. Akhmaloka, Ph.D.

Rektor Universitas Pertamina

Contact Appointment