Sambutan Rektor Universitas Pertamina dalam Focus Group Discussion Forum Rektor Indonesia 2019 “Overview Terhadap Tantangan Yang Dihadapi Indonesia Di Bidang Energi Hingga 2045”

Yang kami hormati,

Presiden Direktur Pertamina Foundation, Bapak Wisnuntoro;

Ketua Forum Rektor Indonesia, Ibu Prof. Dr. Dwia A. Tina Pulubuhu, M.A;

Kepala SKK Migas, Bapak Dr. Ir. Dwi Soetjipto, MM;

Vice Chancellor Universiti Tenaga Nasional, Bapak Prof. Ir. Dr. Kamal Nasharuddin Mustapha;

Direktur Jenderal Energi Baru. Terbarukan, dan Konservasi Energi, Bapak Ir. Rida Mulyana, M.Sc.;

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Republik Indonesia, Bapak Dr. Ir. Saleh Abdurrahman, M.Sc.;

Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Bapak Dr. Ir. Surya Darma, MBA;

Dewan Kehormatan Forum Rektor Indonesia;

Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia;

Pengurus Harian Forum Rektor Indonesia;

Anggota Forum Rektor Indonesia;

Para Undangan dan Hadirin yang saya muliakan.

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat Siang, salam sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan ridha-Nya sehingga di pagi yang sangat berbahagia ini kita semua bisa hadir pada acara Focus Group Discussion Forum Rektor Indonesia 2019 dengan tema “Ketahanan Energi” di Universitas Pertamina, Jakarta.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Indonesia, sebagai negara berkembang, memiliki kebutuhan energi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan laporan Kementerian ESDM, konsumsi energi Indonesia pada tahun 2017 mengalami peningkatan 13,73 persen dibandingkan tahun 2016. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun terjadi peningkatan kebutuhan energi yang cukup besar, lebih dari 10%.

Merujuk kepada Dewan Energi Nasional, Kebutuhan energi tersebut diperkirakan akan terus meningkat sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan jumlah penduduk. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, tentu besar pula kebutuhannya terhadap energi.

Meningkatnya jumlah kebutuhan energi perlu diimbangi dengan jaminan pasokan energi yang bisa dimanfaatkan. Selain itu, tentu perlu pula diimbangi dengan akses terhadap energi dan kemampuan untuk menjangkau harga atau daya beli. Lebih lanjut lagi, proses produksi masal dalam merubah energi yang bersumber dari alam menjadi energi yang bermanfaat bagi manusia harus dilakukan tanpa merusak lingkungan. Jika semua itu terpenuhi, maka tercapailah ketahanan energi nasional.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Diperlukan sinergi lintas sektor untuk mewujudkan ketahanan energi nasional. Dari sisi kebijakan, ketahanan energi adalah salah satu fokus Pemerintah Republik Indonesia yang tercantum dalam Visi Pembangunan Indonesia 2045. Arah kebijakan energi nasional adalah optimalisasi penggunaan energi baru dan terbarukan dan menurunkan ketergantungan terhadap BBM.

Saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri masih sangat tinggi. Padahal kita semua tahu bahwa “there is no hope in fossil energi”. Kita tidak mungkin selamanya bergantung pada energi yang bersumber dari fosil. Di masa depan, Energi Baru dan Terbarukan adalah sumber energi primer yang menggantikan peran sumber energi dari minyak bumi dan batu bara.

Indonesia adalah negara yang kaya sumber energi seperti surya, panas bumi, angin, air, dan sebagainya. Sumber energi yang melimpah itu dapat memenuhi kebutuhan energi Indonesia jika dimanfaatkan dengan baik.

Indonesia membutuhkan sumber energi baru (new energy resources) seperti nuklir, hidrogen, gas metana batubara (coal bed methane), dan batubara tercairkan (liquified coal) dan sumber energi terbarukan (renewable energy resouces) seperti matahari, air, angin, dan panas bumi.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Pada praktik di lapangan, ternyata dibutuhkan modal yang sangat besar untuk mendirikan pembangkit listrik yang bersumber dari energi baru dan terbarukan. Dibutuhkan pula riset yang baik dengan stakeholder untuk menentukan di mana lokasi yang paling strategis untuk pendiriannya. Juga dibutuhkan komunikasi strategis dalam mengomunikasikan rencana pendirian pembangkit listrik tersebut agat dapat diterima oleh berbagai pihak. Pendirian pembangkit listrik tenaga nuklir contohnya harus dipastikan lokasi dan tingkat keamanannya agar tidak mendapat penolakan dari masyarakat.

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan,

Sesuai dengan tema focus group discussion yang diselenggarakan hari ini, semoga kita bisa menilik kembali kekayaan sumber daya alam yang sudah tersedia di alam Indonesia dan bertukar pikiran untuk mengoptimalkannya menjadi sumber energi, demi mencapai cita-cita ketahanan energi nasional.

Forum Rektor Indonesia, sebagai forum para pimpinan perguruan tinggi tentu punya besar dalam proses tersebut. Jika Indonesia ingin punya ketahanan energi, maka butuh riset mendalam di bidang itu. Universitas Pertamina sebagai universitas yang fokusnya di bidang energi, meskipun baru 3 tahun berdiri, akan turut andil dalam proses tersebut.

Dari focus group discussion hari ini kami yakin kita akan mendapatkan kesempatan untuk mendengar telaah dan gagasan tentang ketahanan energi . Karena itulah pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada para pembicara dan seluruh peserta yang telah berkenan mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran untuk berbagi gagasan. Kami berharap focus group discussion ini akan memberikan insight tentang ketahanan energi.

Rasa bangga dan terima kasih saya sampaikan kepada seluruh hadirin yang telah menyempatkan diri untuk hadir di tengah kesibukannya masing-masing dalam rangka bertukar gagasan, tentunya demi pembangunan bangsa dan negara yang lebih baik.

Semoga Allah melimpahkan kepada kita semua rasa kepedulian dan kebersamaan yang tinggi serta kekuatan dan kesabaran menjalankan kegiatan dan tugas dalam rangka menyelesaikan persoalan bangsa Indonesia.

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Prof. Akhmaloka, Ph.D.

Rektor Universitas Pertamina

Contact Appointment